8 bulan sudah aku menjalani hubungan dengan kekasihku, tapi apa yang kulakukan selama ini? Hanya membuatnya selalu menangis dan menangis, terlebih jika aku melihat dia menangis di hadapanku yang membuat aku selalu berpikir, “apakah aku masih pantas dengan dia, apakah aku tidak pernah membuat dia bahagia?”
Mungkin memang kesalahanku yang terlalu jauh memikirkan masa depan kami dalam berhubungan sampai ke jenjang pernikahan dan berkeluarga, tapi apakah itu salah untuk sebuah harapan? Salah, karena aku terlalu berharap tanpa menjalaninya dengan sepenuh hati. Benar, karena harapan itu bisa menjadi penyemangat dalam hidup, terutama dalam berkarir. Aku bisa jadi lebih memiliki makna untuk apa aku bekerja, untuk apa aku mengunjungi, ingin tahu tentang kabar dia, melepas rindu walaupun hanya sekedar makan malam, “for our future”.
Tapi apa yang aku dapatkan ketika dia sedang “bad mood”, gara-gara hal sepele yang memang kekhilafanku karena lupa memberi kabar, selalu menjadi hal yang menjadi permasalahan besar. Dan yang aku tidak suka (sumpah, bahkan benci) alasan tidak memberi kabar karena ketakutan dia akan mantannya yang sampai menghilang dan berakhir hubungan. Apakah dia ingat akan apa yang aku ucapkan, bahwa jangan samakan aku dengan mantan dia, aku datang untuk mengisi kekosongan, bukan sebagai pengganti. Untuk yang pertama aku akui hal itu wajar, tapi untuk yang kesekian kalinya hingga sekarang? Aku malah jadi berpikir dan semakin bertambah gila pemikiranku bila teringat tentang “sms” dia dengan temannya tentang jodohnya yang belum tergantikan sampai saat ini, lalu aku ini dianggap apa? Singkat pikirku, “KEMBALI SAJA KAMU KE MASA LALUMU, MAKA KAMU AKAN TERUS SEPERTI INI…!!!”
Banyak kesalahan, semakin banyak pula aku mengemis untuk kembali seperti semula. Sejak itu aku selalu berpikir, apakah perempuan itu selalu melihat kesalahan laki-lakinya tanpa sedikitpun melirik kebaikannya (mungkin itu hal yang hanya dianggap biasa). Itu memang lebih banyak terjadi karena kesalahan justru lebih mudah untuk diungkit kembali daripada kebaikan. Yang menjadi permasalahan sekarang, bisanya perempuan lebih senang bahkan lebih percaya untuk menyerahkan masalah yang terjadi dengan pasangannya kepada sahabat curhatnya, bukan pada pasangannya sendiri yang “jelas-jelas” sedang menjalani hubungan, takut atau apalah yang dirasakan perempuan itu justru membuat aku semakin merasa tidak berguna untuk dia.
“God”, kenapa hal ini harus terjadi terus, masalah kecil yang selalu dibesar-besarkan, “AKU BUKAN MANTAN KAMU YANG MENGHILANG BEGITU SAJA, LALU MEMINTA HUBUNGAN BERAKHIR, SEPERTI PENGECUT…!!!”
Aku sering meminta dia andai aku lupa atau belum memberi kabar, dialah yang memberi kabar, dia kadang melakukan walaupun agak terpaksa (entah karena gengsi atau apalah), memang laki-laki yang seharusnya mengalah.
Sudahlah, karena kekhilafanku dalam hal perhatian dan kekurang-sabaran dia akan balasan dari kabarku, sedangkan kita saling berharap akan memberi kabar, membuat hubungan ini selalu tidak berjalan mulus.
I hope you read this note, cause I love you more than you ever know.
I Love You My Princess Dessy Sintiani.
From me, Ikhsan Hardiana.
acie acie
hahaha,,,sekalinya posting,langsung menggalaukan diri…
saha abla teh?
ajengqi lain?